"Kita akan melindungi mereka," potong Lynx dengan tegas. "Aku akan memastikan semua orang sampai dengan selamat. Selain itu, wilayah barat memiliki keuntungan. Suku Monrest menghindari tempat itu, dan itu akan memberi kita waktu untuk membangun kekuatan."

Banu menggeleng, wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan. "Aku tidak percaya itu. Kau ingin kita meninggalkan tanah leluhur kita untuk bertaruh pada sesuatu yang belum pasti? Ini tempat kami, Lynx. Kami sudah berakar di sini."

Narendra, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. "Banu, kau lupa bahwa Monrest selalu mengejar kalian dimanapun kalian berada. Jika kalian tetap di sini, kalian hanya menunggu kematian. Lynx benar, kalian harus pergi ke tempat yang lebih aman."

Arkha mengangguk pelan, suaranya tenang tapi tegas. "Narendra benar. Kita harus memikirkan masa depan. Kalau suku-suku lain sudah bersatu di barat, kita tidak punya alasan untuk tidak bergabung."

Rira menatap ayahnya, Raka, dengan mata penuh harap. "Ayah, aku tahu ini berat. Tapi mungkin ini kesempatan kita untuk benar-benar melindungi keluarga kita. Kita tidak bisa melawan Monrest sendirian."

Raka menghela napas panjang, lalu memandang Lynx. "Kau tahu, Lynx, apa yang kau minta ini bukan hal yang kecil. Tapi aku percaya padamu. Kalau kau yakin ini langkah terbaik, aku akan mendukungmu."

Lynx tersenyum tipis. "Terima kasih, Raka. Aku tidak akan mengecewakan kalian."

Banu mendengus, lalu berdiri dengan kasar. "Aku akan ikut. Tapi bukan karena aku percaya padamu. Aku ikut karena aku ingin memastikan keluarga kami selamat. Tapi ingat ini, Lynx, kalau kau gagal, kau yang akan kubuat bertanggung jawab."

Lynx hanya menatapnya dengan tenang. "Itu adil."

Arkha berdiri, menatap semua orang di ruangan itu. "Kalau begitu, kita harus mulai bersiap-siap. Ini perjalanan yang panjang, dan kita harus membawa semua yang kita butuhkan."

Kanha, yang sejak tadi diam, akhirnya melompat berdiri. "Aku juga akan membantu kak Rira! Aku akan membawa tas besar!"

Rira tertawa kecil, menatap Lynx dengan rasa syukur. "Lynx, kau telah memberikan kami harapan. Terima kasih."

Ketika rapat selesai, semua orang mulai sibuk mempersiapkan perjalanan besar mereka. Lynx berjalan keluar dari balai pertemuan, menatap matahari yang mulai turun di ufuk barat. Di dalam hatinya, ia merasa lega karena langkah besar ini telah disepakati.

Namun, ada rasa rindu yang muncul di hatinya. Ia memikirkan Leena, wajahnya yang penuh senyum, dan suara lembutnya yang selalu menenangkan.

"Aku akan segera bertemu denganmu," gumam Lynx pada dirinya sendiri, matanya memandang ke arah barat. "Tunggu aku, Leena."

Malam itu, Raka berdiri di tengah lapangan perkampungan suku Raksa. Dengan suara lantang, ia menyampaikan keputusan besar yang telah mereka buat. "Kita akan bergabung dengan saudara-saudara kita di barat. Kita akan membangun kekuatan, dan suatu hari, kita akan menghancurkan Monrest untuk membalas dendam atas apa yang mereka lakukan pada keluarga kita!"

Seruan semangat meledak dari kerumunan. Pria, wanita, bahkan anak-anak ikut bersorak. Mereka yang dulunya ragu kini berdiri dengan kepala tegak, menyatakan dukungan penuh untuk rencana itu.

Lynx berdiri di samping Raka, terkejut dengan antusiasme mereka. Ia mengira akan ada lebih banyak keraguan atau bahkan penolakan, tetapi dendam yang membara terhadap Monrest menyatukan mereka. Suku Raksa, yang dikenal keras kepala dan individualistis, kini menunjukkan solidaritas yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Arkha melangkah maju, wajahnya serius namun penuh keyakinan. "Kita sudah kehilangan terlalu banyak. Ini waktunya kita membalas. Lynx, kami percaya padamu. Bawa kami ke tempat yang lebih baik."

Banu berdiri di belakang, diam namun matanya menunjukkan konflik batin. Meskipun ia masih merasa marah dan iri terhadap Lynx, ia tidak bisa menyangkal bahwa pria muda itu telah membawa harapan yang nyata bagi mereka.

"Dengan dukungan seperti ini," pikir Lynx, "kita mungkin benar-benar bisa mengalahkan Monrest."

Beberapa hari kemudian, perjalanan besar dimulai. Puluhan keluarga Raksa, dengan perbekalan seadanya, berjalan bersama menuju barat. Jalanan penuh tantangan: medan berbatu, sungai deras yang harus mereka seberangi, dan sesekali ancaman dari hewan buas.

Lynx memimpin di depan bersama Narendra, Rira, dan Arkha. Banu memilih berada di tengah rombongan, mengawasi keluarga dan kelompoknya sendiri. Sementara itu, Kanha menjadi penghibur sepanjang perjalanan, berlari kesana kemari sambil berceloteh, membuat anak-anak tertawa dan orang dewasa tersenyum meskipun mereka lelah.

Di malam hari, Lynx terus melatih para pria dewasa dan pemuda suku Raksa, memastikan mereka siap menghadapi ancaman apa pun di masa depan. Bahkan Narendra, yang masih belum pulih sepenuhnya dari pertarungan sebelumnya, bersikeras ikut berlatih.

"Monrest tidak akan memberimu belas kasihan," kata Lynx kepada mereka. "Jadi jangan pernah ragu untuk bertarung demi orang-orang yang kau cintai."

Rira sering duduk bersama Lynx di dekat api unggun, membicarakan rencana ke depan. Ia masih merasa takjub pada keberanian Lynx, meskipun ia tahu pria itu menyembunyikan beban besar di balik senyumnya. Didalam hati Rira, mulai tumbuh perasaan suka terhadap Lynx.

"Apa yang membuatmu tetap maju, Lynx?" tanya Rira suatu malam.

Lynx menatap api dengan mata yang penuh tekad. "Aku tidak menyukai ketidakadilan. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi didepan mataku. Tidak pada kalian, dan tidak pada siapapun lagi."

Sementara itu, di bagian lain pulau, suasana di benteng Monrest sangat mencekam. Damon, kepala suku Monrest, duduk di atas takhtanya yang terbuat dari tulang dan kulit binatang. Matanya merah karena amarah, rahangnya mengatup rapat.

Di hadapannya, para pimpinan prajurit Monrest berdiri dengan kepala tertunduk. Mereka tahu hukuman berat menanti mereka atas kegagalan menghancurkan suku Raksa.

"Satu orang Lynx," geram Damon, suaranya rendah namun menggetarkan. "Dia tidak hanya menghancurkan Valgor, tapi juga membuat kita terlihat lemah di depan seluruh pulau!"

Salah satu pimpinan mencoba berbicara. "Tuan, kami sudah berusaha, tapi—"

"Diam!" bentak Damon, memukul lengan takhtanya hingga patah. "Aku tidak ingin alasan. Aku ingin solusi!"

Seorang dukun Monrest, seorang pria kurus dengan mata tajam dan suara serak, melangkah maju. "Tuan, mungkin ini waktunya untuk meminta petunjuk dari leluhur."

Damon menatapnya dengan tajam. "Ritual lagi?"

Dukun itu mengangguk dan memandang pemimpin spiritual mereka yang berdiri di dekat Damon. "Lynx bukan manusia biasa. Kekuatan pukulannya yang sepanas api itu berasal dari sesuatu yang tidak bisa kita pahami. Jika kita meminta petunjuk dari leluhur, mereka mungkin bisa memberi tahu kita kelemahannya."

Damon memandang dukun tersebut, "Bukankah kita harus menunggu mendapatkan darah khusus untuk dapat menghubungi leluhur?"

"Dia benar, kita dapat mengorbankan lebih banyak orang untuk mendapatkan petunjuk. Pengorbanan itu tidak cukup untuk membangkitkan leluhur, tetapi aku yakin, dengan mengorbankan lebih banyak orang ditambah kekuatan yang telah terkumpul di Altar selama ini, cukup untuk mendapatkan petunjuk leluhur." Kata pemimpin spiritual.

Damon berpikir sejenak, lalu berdiri. "Baik. Tangkap lebih banyak orang untuk pengorbanan. Aku ingin ritual ini dilakukan segera. Dan kali ini..." Ia berhenti, matanya bersinar dengan kegilaan. "Pastikan kita mendapatkan jawaban."

Perintah itu langsung dilaksanakan. Pasukan Monrest menyebar ke seluruh pulau, menangkap siapapun yang bisa mereka temukan. Pria, wanita, bahkan anak-anak dibawa ke benteng untuk dijadikan korban. Bagi suku Monrest, semua nyawa yang ada di pulau itu tidak ada harganya. Mereka hanyalah alat persembahan yang bisa digunakan kapanpun mereka menginginkannya.

Di ruang bawah tanah benteng, persiapan ritual dimulai. Simbol-simbol kuno digambar di lantai, mereka mengelilingi altar pengorbanan yang berada di posisi tengah ruangan yang digunakan untuk berkomunikasi dengan leluhur. Orang-orang yang akan dikorbankan berada di dekat altar pengorbanan. Isak tangis dan ketakutan menyelimuti mereka semua.

Damon berdiri di depan altar, mengawasi segala sesuatunya dengan mata penuh dendam.

"Lynx," gumamnya pelan, suaranya penuh kebencian. "Aku akan menemukan kelemahanmu. Dan ketika aku melakukannya, aku akan menghancurkanmu di depan semua orang yang kau coba lindungi."

Ritual akan segera dimulai, dan kegelapan mulai menyelimuti benteng Monrest.


